Ronteq Singo Ulung Meriahkan Nusa Dua Fiesta 2012

Ronteg Singo Ulung, kesenian daerah kabupaten Bondowoso kembali memeriahkan  Nusa Dua Fiesta 2012, Sabtu 3 Nopember 2012.  Ajang tahunan Nusa Dua Fiesta (NDF) yang digelar di Kawasan Bali Tourism Development Corporation (BTDC) ini dibanjiri ribuan warga dan wisatawan dalam dan luar negeri yang ingin menyaksikan kemeriahan berbagai parade seni yang ditampilkan oleh berbagai daerah diseluruh Indonesia termasuk Bondowoso.

“Event ini sangat baik untuk mempromosikan kebudayaan dan produk kabupaten Bondowoso, apalagi ajang ini banyak diminati wisatawan dalam maupun luar negeri,” ujar Adi Sunaryadi SE, Kepala Bidang Usaha Sarana ODTW Disparporahub Bondowoso, yang mendampingi rombongan ke Nusa Dua Bali.

Nusa Dua Fiesta (NDF) 2012 dibuka dengan parade seni dan budaya yang bertemakan pelestarian alam laut di Pulau Peninsula, Nusa Dua, Bali, Jumat (2/11/2012). Ogoh-ogoh Kebo Iwa yang menjadi maskot kawasan wisata Nusa Dua mengawali pawai peserta yang akan meramaikan acara tahunan ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ronteq Singo Ulung dari Padepokan Gema Buana Bondowoso ini selalu menjadi magnet pengunjung NDF .

Adi Sunaryadi berharap kegiatan ini akan menghasilkan hal positif untuk perkembangan dan pelestarian seni budaya serta kontribusi nyata sehingga wisatawan akan semakin tertarik  untuk mengetahui dan mengunjungi Bondowoso. “Saya harapkan kegiatan ini akan membawa ke arah positif dalam upaya  pengembangan pariwisata Bondowoso” katanya. (TIM)

Kawah Ijen, Jawa Timur, dipakai lokasi syuting film RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA

 

Kapanlagi.com – Kawah Ijen, Jawa Timur, yang dipakai sebagai salah satu lokasi syuting film RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA ternyata menyimpan kenangan tersendiri bagi Titi Sjuman. Aktris berkulit eksotis ini berperan sebagai sang tokoh utama, RAYYA.
Sempat mengeluh dalam perjalanan menuju Kawah Ijen, Titi Sjuman pada akhirnya terkesan dengan pemandangan di puncaknya.

“Perjuangan ke Kawah Ijen yang gila-gilaan, sampe udah mau pingsan. Pas naik aku juga komplain terus. Tapi sampe di atas tuh tempatnya bagus dan luas banget. Aku ngerasa semakin dekat dengan Tuhan. Aku berasa banget kecil kaya debu,” ujar Titi saat ditemui dalam acara Gala Premiere Film terbarunya ini, Senin (17/9).

Ia pun dengan tegas mengatakan kalau syuting di Kawah Ijen adalah scene favoritnya dalam film. “Syuting di Kawah Ijen itu paling berkesan,” tegasnya. Titi pun dengan antusias menceritakan proses syuting di sana yang sempat membuat badannya kaku karena suhu yang sangat dingin.

“Aku di situ pake gaun yang terbuka dan tipis, sedangkan di situ dua derajat. Tapi di situ aku aktingnya harus pura-pura kepanasan dan harus puitis, padahal aku udah kedinginan banget. Sampe cut itu kru langsung ngasih aku jaket dan minum karena aku udah ga bisa ngerasain badan aku,” tuntasnya.
Road movie arahan Viva Westi ini dapat disaksikan di bioskop mulai tanggal 20 September nanti.

5 Ritual Unik Untuk Mendatangkan Hujan di Indonesia

5 Ritual Unik Untuk Mendatangkan Hujan di Indonesia

Ritual Unik Untuk Medatangkan Hujan – Hujan merupakan pristiwa jatuhnya air dari langit ke tanah, hujan sangat penting bagi kehidupan manusia, jika musim kemaru terjadi hujan akan sangat jarang terjadi yang akhirnya menyebabkan kekeringan yang akan membawa bencana. Nah dibeberapa daerah di Indonesia ada beberapa ritual yang bisa dibilang cukup aneh dan unik untuk mendatangkan hujan.kamu mau tahu ritual apa aja itu simak 5 ritual anah untuk mendatangkan hujan di Indonesia berikut ini.

1. Ritual Ojung Di Bondowoso


Di Bondowonso ada sebuah ritual unik untuk mendatangkan hujan ketika kekeringan terjadi ritual ini dikenal dengan nama Ojung. Tradisi ini telah di turunkan turun temurun dan sampai saat ini masih terus di gelar. Ritual Ojung diawali dari tarian Topeng Kuna dan Rontek Singo Wulung dan puncak dari ritual ini adalah Pertandingan adu pukul sebatang rotan. Peserta lelaki dewasa sejak usia 17 tahun hingga usia tua 50 tahunan. Saat wasit memberi aba-aba, pertandingan dimulai dua pemakin inipun adu tangkas memecutkan rotan. Selain untuk memohon hujan, ritual ini juga dimaksudkan untuk menolak bala bagi masyarakat desa sekitar.

2. Ritual Cowongan Kabupaten Banyumas


Ada sebuah ritual unik di Kabupaten Banyumas untuk mendatangkan hujan ritual ini bernama Cawongan yang jika diartikan oleh warga setempat artinya menghiasi wajah jadi ritual cawongan ini adalah ritual yang dengan sengaja dilakukan seseorang untuk menghias wajah, ritual ini dipercaya dapat menurunkan hujan berkat bantuan Dewi Sri yang merupakan dewi pangan yang memberikan kesejahteran bagi umat manusia, melalui doa doa yang dipanjatkan Dewi sri akan menurunkan hujan dari langit, yang boleh melakukan ritual Cowongan hanyalah kaum wanita saja menurut cerita warga setempat yang datang dan merasuk dalam properti cowongan adalah bidadari sehingga kaum laki-laki tidak boleh memegang properti itu. Desa yang sampai saat ini masih melestarikan ritual Cowongan untuk mendatangkan hujan adalah desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.

3. Ritual Unjungan


Ritual Unjungan merupakan ritual yang dilakukan masyarakt di Purbalingga dan Banjarnegara untuk mendtangkan hujan ketika kemarau tiba. Tradisi Unjunga merupakan tradisi mengadu manusia mengunakan rotan yang dilakukan oleh pria dewasa. Sebelum beradu pukul berlangsung biasanya pemain Unjungan akan menari terlebih dahulu dangan iringan musik setelah musik selesai barulah mereka beradu saling memukul mengunakan rotan. Ritual ini akan terrus dilakukan jika hujan belum juga turun namun jumlahnya dihitung secara ganjil. Apabila setelah tiga kali dilaksanakan masih belum turun hujan, maka unjungan tujuh kali begitu seterusnya.

4. Ritual Cambuk Badan Tiban


Ritual cambuk badan tibdan ini dilakukan untuk meminta hujan yang dilakukan oleh warga Desa Wajak, Boyolali, Tulungagung. Ritual ini adalah ritual adu cambuk yang dilakukan oleh pria dewasa. Dulunya tradisi Cambuk badan tiban ini dilakukan oleh Tumenggung Surotani II untuk mencari bibit prajurit yang tanguh namun seiring pergeseran zaman tradisi Cambuk badan tiban dijadikan cara untuk mendatangkan ujan bagi warga setempat, darah yang keluar akibat dari cambukan inilah yang dipercaya warga akan mendatangkan hujan.

5. Ritual Gedub Ende di Bali


Ritual Gedub Ende merupakan ritual masyarakat bali untuk mendatangkan hujan ritual ini dilakukan dengan cara mengadu dua orang dengan cara memukul dengan mengunakan rotan. Rotan disini disebut Ende sedangkan yang namanya Gedub adalah alat yang digunakan untuk mengkis rotan yang digunakan peserta. Jadi pesrta Ritual in akan mengunakan rotan dan penagkis untuk bertarung, dalam pertarungan Gedub Ende ada seorang wasit yang bernama saye. Wasit inilah yang nantinya memberikan peringatan kepada pemain yang melekukan pelangaran. Darah yang ditimbulkan dalam pertarungan Gedub Ende inilah yang diyakini warga akan mendatangkan hujan.

 

http://forum.kompas.com/teras/197059-5-ritual-unik-untuk-mendatangkan-hujan-di-indonesia.html